Rivalitas Sepak Bola Antara Inggris Dan Jerman Pada Piala Euro 2016

Rivalitas Sepak Bola Antara Inggris Dan Jerman Pada Piala Euro 2016

Berita Bola Piala Eropa – Tim nasional Jerman dan juga Inggris baru saja bertemu dalam pertunjukan pertandingan persahabatan di Berlin pada tanggal 27 Maret lalu. Inggris yang sempat tertinggal dengan 2-0 akhirnya berhasil membalikkan kekalahannya dan menang dengan skor 2-3.

Prediksi-Jerman-Vs-Inggris-27-Maret-2016

 

Meskipun hanya bermain pada pertandingan persahabatan namun reaksi dari publik begitu besar mengingat mereka adalah rivalitas panjang antara keduanya pada lapangan hijau selama ini. Namun bagaimana reaksi sesungguhnya persepsi masyarakat Jerman tentang rivalitasnya dengan masyarakat Inggris di lapangan hijau?

Pada saat menjelang Piala Dunia 2006, Goethe Institute mengirimkan perwakilan dari Jerman menuju Inggris untuk terlibat dalam diskusi tentang kultur sepak bola Jerman sebagai bagian untuk persiapan guna meramaikan pertandingan akbar tersebut. Salah satu yang diutus oleh Goethe Institute adalah Uli Hesse, penulis berita dan majalah sepak bola kenamaan Jerman yang berasal dari Dortmund.

Di London, seseorang yang bernama Mark menjamu Uli di rumahnya. Baru saja tiba di rumah Mark, Uli langsung ditanya oleh sang pemilik rumah, “ Sudah jam berapa sekarang?” Uli menjadi agak gugup karena tidak sedang memakai jam tangan. Mark pun segera menjawab, “It’s five to one!” Dan ketika Uli masih saja dalam kebingungan, Mark pun melanjutkan, “It’s five to one. In Munich.” Dan ternyata semua ini hanyalah olok-olok semata.

Uli pun kemudian menjelaskan kepada Mark bahwa publik dari sepak bola Jerman sudah lama melupakan hal tersebut karena telah dianggap tidak punya relevansi apapun terhadap sepak bola Jerman. Apalagi Jerman juga akhirnya lolos pada Piala Dunia dengan melalui pertandingan play-offs. Bahkan pada ajang Piala Dunia di tahun 2002, Jerman dapat melaju sampai kepada partai puncak, melebihi pencapaian Inggris.

Menurut Uli, rivalitas Jerman dan Inggris pada sepak bola lebih banyak digaungkan oleh publik Inggris ketimbang oleh publik Jerman. Sedangkan bagi fans dari tim nasional Jerman sendiri, Belanda dan juga Italia jauh lebih dianggap sebagai rival berat bagi mereka. Bahkan pada malam ketika Inggris mempermalukan Jerman pada tahun 2001 tersebut, fans dari timnas Jerman tetap bersukaria terlebih lagi setelah mendengar kabar bahwa timnas Belanda kalah di Dublin. Mereka pun bersorak dengan bahagia dengan sorakan, “We’re going to World Cup without Holland!”

Mungkin lain waktu saya akan menulis tentang rivalitas tersebut, khususnya pada kontra Belanda. Namun sekarang jelas bukanlah waktu yang tepat untuk membahas tentang rivalitas Jerman dan Belanda.

Dunia sepak bola masih saja berkabung dan memberikan penghormatan terakhir bagi seorang peamin legendaris asal Belanda, Johan Cruyff. Selain dari itu, Belanda juga tidak lolos pada Piala Eropa 2016, bukan? Jadi untuk sementara rivalitas Jerman dengan Belanda dihentikan sampai mereka berhasil lolos kembali ke kompetisi bergengsi.

Hal senada juga disampaikan oleh seorang jurnalis sepak bola Jerman lainnya, Raphael Honigstein. Dalam bukunya, Englischer Fussball, Raphael menuliskan tentang kekalahan Jerman di Munchen 1-5 memang sangat mengejutkan namun tak membuat masyarakat Jerman menaruh dendam kesumat terhadap The Three Lions.

england-v-germany

Tidak juga kekalahan pada final Piala Dunia 1966 meskipun Inggris mendapatkannya lewat gol yang kontroversial oleh seorang Geoff Hurst. Lagipula Jerman Barat juga menjadi sadar diri bahwa pada final tahun 1966 tersebut mereka merupakan underdogs. Ya, sebelum dimulainya laga tersebut, Jerman Barat selalu gagal pada 11 kali kesempatan untuk bisa mengalahkan Inggris.

Menurut Raphael, salah satu alasan mengapa sepak bola Jerman tidak menganggap adanya rivalitas yang begitu besar dengan Inggris adalah karena rakyat Jerman secara umum menyukai bahkan mengagumi Inggris termasuk kultur sepak bolanya.

Di dalam bukunya, Tor! The Story of German Football, Uli Hesse juga mengisahkan betapa pentingnya pengaruh Inggris dalam pembentukan dan juga pengembangan sepak bola Jerman sejak dari akhir abad ke-19. Kehadirannya pada sekolah-sekolah berbahasa Inggris di kota-kota besar Jerman serta datangnya para pekerja dan pedagang yang berasal dari Inggris membuat publik Jerman pelan tapi pasti mulai mencintai permainan sepak bola.

Berdasarkan catatan tertulis yang ada, penggunaan bola dalam sebuah permainan yang dilakukan oleh orang Jerman pertama kali terjadi di sebuah sekolah di Braunschweig pada Oktober 1874. Inisiatornya adalah dua orang guru bernama August Hermann dan Konrad Koch. Meskipun memang mereka masih memainkannya seperti bermain rugby.

Dalam perkembangan selanjutnya, klub-klub Jerman belajar banyak dari Inggris tentang bagaimana caranya bermain sepak bola yang baik dan benar. Pada tahun 1896, tim asal Duisburg melancong ke Inggris untuk menjalani empat laga persahabatan. Hasilnya? Tak sekalipun mereka berhasil membuat gol dan sebaliknya justru kebobolan banyak gol.

Lalu pada tahun 1899, pemain-pemain sepak bola profesional Inggris menjejakkan kaki untuk pertama kalinya di Jerman dan tanpa kesulitan berarti berhasil menang atas tim gabungan Berlin XI dengan skor 13-2 dan 10-2.

Sejumlah klub khususnya di Jerman bagian Selatan menggunakan jasa pemain dan pelatih asal Inggris untuk memperkuat skuat masing-masing. Mereka pun mulai menuai keberhasilan.

Pada tahun 1908, Bayern München memenangkan kejuaraan Southern Bavaria di bawah asuhan Mr Taylor. Sedangkan Karlsruhe menjadi juara nasional setahun kemudian berkat bantuan dari William Townley, bekas pemain Arsenal dan Blackburn.

Alasan lain yang diungkapkan Raphael Honigstein terkait dengan tidak terlalu tingginya animo publik Jerman terhadap rivalitas kontra Inggris adalah bahwa persaingan di antara keduanya dalam urusan sepak bola dianggap tidak terlalu sengit. Terlepas dari kekalahan pada final 1966, Inggris lebih sering kalah bersaing dari Jerman pada laga Piala Dunia dan Piala Eropa. Pada perempat final Piala Dunia 1970 di Meksiko, Jerman Barat berhasil menang 3-2 di babak perpanjangan waktu melalui Gerd Müller meskipun sempat tertinggal 2-0.

Lalu pada perempat final Piala Eropa 1972, Jerman Barat kembali berhasil menyingkirkan Inggris. Pada leg pertama, Jerman Barat menang 3-1 atas tuan rumah Inggris. Dan pada leg kedua di Berlin, keduanya bermain imbang 0-0.

Kisah kemenangan Jerman terus berlanjut. Mereka menaklukkan Inggris di semifinal Piala Dunia 1990 melalui drama adu penalti. Dan lagi-lagi, lewat adu penalti di Wembley, Inggris kembali bertekuk lutut di hadapan Jerman di semifinal Piala Eropa 1996. Jerman kembali unggul atas Inggris pada perhelatan Piala Dunia 2010 dengan skor telak 4-1.

Raphael pun tiba pada kesimpulan bahwa bagi Jerman tidak sungguh-sungguh ada rivalitas dengan Inggris. Atau kalau pun mau disebut rivalitas, ia menyebutnya dengan: decidedly one-sided.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*